Artikel

Kata Pengantar dari Kelian Kelir

OM Swastyastu, Ida Dane Semeton babadbali.com yang kelian cintai, Bali kaya sekali dengan naskah kuna yang berharga. Umumnya dituliskan pada lontar, berbahasa Kawi (Jawa kuna) atau bahasa Bali, atau campuran antara keduanya. Lontar mengenai babad banyak sekali versinya, beberapa di antaranya, sudah kelian tampilkan isinya ke atas kelir ini sejak lama. Di antaranya adalah: Babad Arya Gajah Para 1, 2, 3 Babad Buleleng 1, 2, 3 Babad Dalem Batu Kuub

Babad Arya Gajah Para 3/3

Bagian 1 Bagian 2 Diceritakan Pedanda Sakti Abah lama berada di Pertapaan Pedanda Sakti Bajangan, di sana di Bukit Bangli, Pada suatu ketika, akhirnya menginjak dewasa ketiga adiknya, sudah wajar diupacarai, diberi penyucian (padiksan), oleh Pedanda Sakti Abah, sekarang berganti nama yang sulung Pedanda Wayan Tianyar, Pedanda Nyoman Tianyar, Pedanda Ketut Tianyar. Adapun Pedanda Wayan Tianyar, kawin dengan seorang putri dari Kekeran, Pedanda Nyoman Tianyar beristrikan dari Intaran Badung, Pedanda

Babad Arya Gajah Para 2/3

Bagian 1 Sekarang kembali diceritakan I Gusti Ngurah Kaler, mempunyai empat orang putra dari seorang ibu lahir dari I Gusti Ayu Diah Lor, putra tertua bernama I Gusti Gede Kaler, pindah menuju desa Antiga, berdiam di sana dan mengembangkan keturunan, putra kedua I Gusti Made Kekeran, pindah menuju Desa Kubu, berkembang di sana. Putra ketiga I Gusti Nyoman Jambeng Campara, pindah ke Desa Sukadana Tigaron, menetap dan mengembangkan keturunan di

Babad Arya Gajah Para 1/3

Ya Tuhan semoga tidak mendapat halangan. Ong pranamyam sira sang siwyam, bhukti mukti hitarratam, prawaksye tatwa wijnevah, wisnwangsa patayo swaram. Sira ghranestyam patyam, rajasityam mahabalam, sawangsanira mangjawam, bhuphalakarn patyam loke. Ong nama dewa ya. Sembah hamba ke hadapan Batara junjungan, daulat paduka leluhur yang telah menjadi batara, Engkau yang menganugerahi kehidupan (makanan) dan kebahagiaan, keberhasilan dalam segala kehendak, senantiasa bersemayam dalam perasaan dan pikiran, dipuja agar merestui, para bijak di

Jro Mangku Gde Ktut Soebandi: ''Babad'' di Bali Kebanyakan Omong Kosong

Sumber: http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2003/1/19/pot1.html BABAD merupakan historiografi tradisional. Sebagai sumber sejarah, babad tidak bisa diabaikan dalam penulisan sejarah lokal maupun nasional. Hampir semua etnis atau suku bangsa di Indonesia memiliki sejarah tradisional sejenis babad, misalnya di Jawa, Bali dan Lombok — dari Babad Dalem, Babad Buleleng, Babad Blahbatuh, Babad Tanah Jawi, sampai Babad Lombok. Pengkajian bangsa Belanda terhadap babad, pada tahap awalnya hanya ditekankan pada telaah teks dari sudut filologi, dengan demikian

Nilai Religius

Berikut dharma-wacana Ida Bhagawan: Jangan sampai terputus dengan garis kawitan. Memuja kawitan itu perlu karena meliputi tiga dari Pancasrada yaitu : Widhi Tattwa, Atma Tattwa, dan Punarbhawa. Sama seperti kita sekarang, bagaimana sakit hati kita jika anak kandung kita tidak mengakui kita sebagai ayahnya ? Atau tidak tahu bahwa kitalah ayahnya ? Kawitan berasal dari kata Wit artinya asal-usul. Bhisama leluhur yang dimuat di Prasasti antara lain berbunyi sbb.: (terjemahan)

Silsilah Kita

Konon kita ini dahulu sedikit. Setelah berkembang biak dan beranak-pinak, jadilah kita sebanyak ini. Dalam gegap gempita, sesak sempit ini kadang kita gerah. Beradu keras berebut hak melanjutkan hidup dengan orang lain dalam keseharian kita. Orang lain? Pernahkah terpikir oleh kita, bahwa semua kita ini mungkin masih bersaudara? Coba lihat bahwa dalam deretan silsilah, sebuah keluarga besar dari satu orang kakek hanya tergambar dalam tiga baris saja? Itupun kadang- kadang

Nilai Luhur

Salah satu sameton titiyang bertanya: “Nilai luhur apa yang dapat kita petik dari memuliakan leluhur kita yang dahulu tidak henti- hentinya berperang?” Kemudian tiang balas bertanya: “Apakah sekarang kita sudah menghentikan perang itu?” Tidak ada bedanya bukan? Kalau dulu darah ditumpahkan untuk sebuah kepentingan, sekarangpun nilai yang lebih mahal dari darah telah banyak ditumpahkan untuk sebuah kepentingan. Pertumpahan darah pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan pertumpahan emosi dan keringat pada

Kesan Sumbang

Pernah suatu ketika nenek moyang kita berpikir bahwa bumi ini datar seperti meja. Adalah realitas yang membuat kita kini berpikir lain. Realitas yang sekarang lebih masuk akal, kata kita. Tetapi tidak mudah bagi nenek moyang kita pada masa itu memahami realitas kita sekarang. Demikian pula bagi kita untuk memahami pendapat keturunan kita kelak. Pemikiran pun terus ber-evolusi. Babad sering dituding sebagai pencipta kotak- kotak dalam masyarakat. Adanya soroh, gotra, trah,

Tentang Babad

Agak sulit mendefinisikan apa arti babad. Tetapi dalam hati kita tahu maknanya. Itu yang penting. Babad adalah mengenai leluhur. Ada tentang kepahlawanan, ada kejayaan, ada kegetiran, ada pengkhianatan, ada sejarah, ada silsilah, ada epos, berpadu menjadi satu. Secara pokok tidak lepas dari kiprah para leluhur di masa lalu. Jadi untuk apa berpanjang kata mendefinisikannya? Ada kesan sumbang membicarakan babad. Konon karena isinya dapat dibelokkan ke arah yang negatif. Bukankah tidak hanya babad