Artikel

Wewaran

Wewaran adalah ritme hari. Alam semesta secara ritmik berdenyut dalam frekuensi yang berbeda-beda, frekuensinya apa yang cepat dan ada yang lambat. Yang cepat misalnya terjadi 3 hari sekali, sedangkan yang lambat bisa sampai per sembilan hari. Ada ritme harian dan dua harian yang disebut ekawara dan dwiwara, namun denyutannya tidak langsung, melainkan tergantung kepada nilai spesifik wewaran lainnya. Wewaran membawa manfaat masing-masing, dalam kehidupan sifat wewaran adalah gelombang minor (minor

Rumus Perhitungan Wewaran

Dalam perhitungan wewaran, unsur paling utama yang harus diketahui adalah angka pawukon. Angka pawukon adalah posisi hari dalam siklus 210 hari tahun pawukon. Dimulai dari 1 (Redite wuku Sinta) sampai 210 (Saniscara Watugunung). Kalau semeton sekalian bisa menghafalkan nilai pawukon (di sudut kanan bawah halaman pewarigaan) untuk masing-masing hari penting rerainan di Bali, akan sangat memudahkan untuk mencari kapan suatu hari berlangsung dengan mengkorelasikan selisihnya menggunakan tombol + dan –

''Nampih Sasih'' Berkeseimbangan

UMAT Hindu di Indonesia menganut empat sistem kalender yaitu: Surya Premana (Solar System), Chandra Premana (Lunar System), Sistem Wuku dan Prenatamasa. Surya Premana menghitung waktu berdasarkan peredaran bumi mengelilingi matahari. Chandra Premana menghitung waktu berdasarkan peredaran bulan mengelilingi bumi. Sedangkan Wuku menghitung waktu berdasarkan perputaran Wuku yang jumlah seluruhnya 30 Wuku. Satu Wuku lamanya tujuh hari (Redite, Soma, Anggara, Budha, Wreshaspati, Sukra dan Saniscara). Lima Wuku disebut satu bulan Wuku

Bilangan Julian

Hampir tanpa kecuali, setiap kalender menandai daur tahun dengan angka tahun yang dikaitkan dengan suatu kejadian sejarah. Beberapa budaya menamai tahun berurutan sesuai dengan sifatnya. Nama itu bisa membentang sampai beberapa daur tahun. Misalnya penamaan tahun Jawa dalam satu windu (8 tahun) dan penamaan kurup (120 tahun). Kalender Gregorian (Masehi) mengaitkan angka tahun dengan kelahiran Kristus. Kalender Islam mengaitkan dengan Hijrah nabi Muhammad dari Mekah ke Maddinah. Demikian antara lain

Rakam

Dipercaya sebagai bagian dari perhitungan untuk menentukan hari wisuda / penobatan raja atau pimpinan. Hasil akhirnya akan menentukan baik tidaknya sang pemimpin itu melaksanakan tugasnya. Tentu saja harus diperhitungkan dengan evaluasi terhadap hari kelahiran beliau, apakah memungkinkan sifat yang demikian diberi tampuk tanggung jawab yang dibebankan. Dari hari Sukra diberi angka urut 1 sampai Wrespati – kemudian dari Kliwon juga diberi angka urut sampai Wage. Angka urutan itu dibagi dengan

Pangarasan / Paarasan

Pangarasan adalah penggolongan sifat manusia berdasarkan urip saptawara dan pancawara. 1 Aras Tuding Sifatnya telunjuk jari. Sering ditunjuk dalam hal apa pun. 2 Aras Kembang Sifatnya bunga. Memiliki pesona yang memikat lawan jenisnya. 3 Lakuning Lintang Sifatnya bintang. Lemah hati, kesepian dan sengsara. 4 Lakuning Rembulan Sifatnya bulan. Mengundang simpati semua orang. 5 Lakuning Srengenge Sifatnya matahari. Terang dan berwibawa. 6 Lakuning Banyu Sifatnya air. Tenang, selalu mengalir ke tempat

Pancasudha

Pancasuda atau pawisesan adalah penggolongan sifat manusia yang dihitung dari angka-angka khusus yang diberikan kepada saptawara dan pancawara. Wisesa segara: Pemurah, pemaaf, berwibawa dan bertanggung jawab. Tunggak semi: Penghasilannya selalu terjamin. Satrya wibawa: Dihormati orang karena kemulyaan dan keluhurannya. Sumur sinaba: Dicari orang karena petuah dan nasehatnya. Bumi kapetak: Suka bekerja, kuat menahan kecewa dan penderitaan, rapi dan bersih hidupnya tetapi pendendam. Satrya wirang: Luhur budinya tetapi selalu dipermalukan orang,

Urip

Urip, juga disebut dengan neptu. Di beberapa tempat di Jawa, sebutan neptu otomatis sudah merupakan jumlah dari urip saptawara dan urip pancawara. Dalam upakara dan bebantenan, urip ini disimbolkan dengan sejumlah uang kepeng atau pis-bolong, para tetua kita juga menggunakannya untuk memperhitungkan baik buruknya hari. Tabel Urip Saptawara Redite (Minggu) 5 Soma (Senin) 4 Anggara (Selasa) 3 Buda (Rabu) 7 Wrespati (Kamis) 8 Sukra (Jumat) 6 Saniscara (Sabtu) 9 Ingat

Palelintangan / Lintang

Bersiklus 35 linier. Modulus 35 dari Angka pawukon dihubungkan ke nama lintang. Gajah Pandai menyembunyikan perasaan yang sebenarnya, hingga tampak tetap tenang dan sabar. Mereka ini pandai bergaul dan mempunyai banyak kawan, tetapi sayang sewaktu-waktu suka bersikeras dengan pendapatnya sendiri yang belum tentu benar dan suka pula berlaku agak angkuh. Mereka ini pada umumnya kuat bekerja. Kiriman Ramah tamah, sopan santun, hati-hati bertindak, pandai menyusun kata-kata atau mengarang dan lekas

Watek

  Pewatekan terdiri dari tiga unsur: Watek Agung atau dasawara, Watek Madya dan Watek Alit. Pewatekan ini populer pada jaman pararaton. Mungkin giliran kita sekarang untuk menggalinya. Watek Madya ada 5 sedangkan watek alit ada 4: Watek Madya 1 Wong Suka bergaul 2 Gajah Suka berlaga 3 Watu Pendiam 4 Buta Tidak melihat 5 Suku Suka bepergian Watek Alit 1 Lintah Bekerja kalau lapar (perlu) saja 2 Uler Bekerja sebentar