Kelian Babadbali

Ekawara

Ekawara adalah daur satu hari dari Pawewaran. Unsurnya hanya satu: Luang. Arti harafiahnya adalah kosong, tunggal, massive, pejal. Karena tergantung kepada urip saptawara dan pancawara, maka kandungan spiritualnya lebih tinggi dari yang kedua wewaran itu, dikatakan merupakan kesimpulan interaktif keduanya. Hari ini baik untuk mengerjakan hal-hal yang sifatnya pribadi dan merupakan unsur vertikal antara ciptaan dan pencipta. Lebih baik diam dari pada membicarakan orang lain, karena baik maupun buruk bukan

I Made Bija

Berikut tulisan Pak Bija di Bali Post sehubungan dengan masih rancunya pedoman kalender Saka Bali. Saya ingin menyampaikan kepada PHDI Propinsi, sudi kiranya menanggapi apa yang saya utarakan berikut ini: Saya mendapat kabar dari penyusun kalender Bali, Bapak Wayan Gina dari Karangasem bahwa penampih sasih akan diganti dari penampih yang sudah ada yaitu Penampih Sasih Berkeseimbangan, kembali lagi ke Jhesta Sadha. Tujuannya, supaya hari raya Nyepi/ Tahun Baru Saka tetap jatuh pada bulan Maret. Hal ini

I Wayan Gina

Beliau juga menulis buku Aneka Tarikh, yang diterbitkan oleh Upada Sastra, berisi berbagai macam perhitungan kalender di dunia. Kami belum punya riwayat hidup beliau untuk ditulis di sini, bila Anda memiliki data tentang Beliau mohon masukannya.

Ketut Bangbang Gde Rawi

Beliau lahir di Desa Celuk, Sukawati, Sabtu Pon Sinta 17 September 1910 sebagai anak keempat dari enam bersaudara dari pasangan Jro Mangku Wayan Bangbang Mulat dan Jro Mangku Nyoman Rasmi. Tahun 1929, setelah tamat sekolah Goebernemen Negeri di Sukawati, dalam usia 19 tahun, Ketut Bangbang Gde Rawi sudah mulai tekun mempelajari ihwal wariga, adat, dan filsafat agama Hindu. Proses perburuan ilmu ini dilakukan dengan cara bertandang ke griya-griya, mencari lontar,

Ketut Bangbang Gde Rawi

Beberapa tokoh kalender Bali: I Ketut Bangbang Gede Rawi (alm) I Wayan Gina Kebek Sukarsa I Made Bija dan Putranya, I Made Agus Putra Wijaya   Pujian babadbali.com kepada tokoh-tokoh di atas. Masih ada yang lainnya, tetapi karena sempitnya pengetahuan kami masih belum tertuang dalam kelir ini, mohon informasi dari para semeton semuanya. Usaha mereka merupakan pelita dalam temaramnya budaya Bali. Jaminan keajegan melalui kotak-kotak berangka merah dan hitam sarat

Kalender Islam (Hijryah)

Kalender Islam adalah kalender candra (lunar) yang observatif. Daurnya meliputi 12 bulan candra yang bertemu (nemu-gelang) dalam 30 tahunan. Sebagai perhitungan hari suci Islam, sasih (bulan candra) Islam diawali dari mulai nampaknya busur cahaya setelah bulan padam. Sebagai perhitungan keseharian Islam, dipakai kalender perkiraan seperti yang tampil dalam kelir ini. Oleh karena itu, penanggalan hari suci dibedakan dengan penanggalan sehari-hari yang berupa kalender perkiraan. Penanggalan religius adalah kalender yang sah

Kalender Julian

Kalender Julian di perkenalkan oleh Julius Caesar 45 tahun sebelum Masehi. Merupakan tahun surya dengan jumlah hari tetap setiap bulannya, dan disisipi satu hari tiap 4 tahun untuk penyesuaian panjang tahun tropis. Kalender ini digunakan secara resmi di seluruh Eropa, sampai kemudian diterapkannya reformasi dengan Kalender Gregorian pada tahun 1582. Era sebelum 45 SM, dinamakan era bingung, karena Julius Caesar menyisipkan 90 hari ke dalam kalender tradisional Romawi, untuk lebih

Kalender Gregorian (Masehi)

Kalender Gregorian atau kalender Masehi, sudah menjadi standard penghitungan hari internasional. Pada mulanya kalender ini dipakai untuk menentukan jadual kebaktian gereja-gereja Katolik dan Protestan. Kalender Gregorian adalah kalender murni surya yang bertemu siklusnya pada tiap 400 tahun (146097 hari) sekali. Satu tahun normal panjangnya 365 hari, tiap bilangan tahun yang habis dibagi 4 tahunnya memanjang menjadi 366 hari, namun tidak berlaku untuk kelipatan 100 tahun dan berlaku kembali tiap kelipatan

Kalender Jawa

Pergantian tahun Hijriah dan tahun Jawa hampir selalu bersamaan. Hal ini bisa dipahami karena sejak 370 tahun lalu kalender Jawa mengadopsi sistem penanggalan Hijriah yang berdasarkan pergerakan Bulan mengelilingi Bumi. Awalnya, hingga 1633 M masyarakat Jawa menggunakan sistem penanggalan berdasarkan pergerakan Matahari. Penanggalan Matahari dikenal sebagai Saka Hindu Jawa, meskipun konsep tahun Saka sendiri bermula dari sebuah kerajaan di India. Tahun Saka Hindu 1555, bertepatan dengan tahun 1933 M, Raja